Menteri LHK Minta Semua Pihak Pantau Titik Panas di Wilayah Rawan Karhutla

0 0
Read Time:1 Minute, 45 Second

wantaranews.com – Jakarta

Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya meminta semua pihak untuk mengikuti pantauan titik panas yang muncul di wilayah rawan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Hal ini dinilai penting sebagai upaya pencegahan karhutla yang mulai muncul di sejumlah daerah rawan, disamping melakukan patroli yang melibatkan masyarakat setempat.

“Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) juga memiliki pola penegakan hukum, yaitu dengan memberikan peringatan kepada perusahaan pemilik kebun sawit dan sebagainya apabila muncul titik panas di lokasi usahanya,” ujar Menteri LHK dalam rapat teknis membahas penjelasan prakiraan cuaca  dan teknik modifikasi cuaca serta kesiapan patroli desa secara virtual pada Jumat (30/7/2021).

Dalam rapat ini, Menteri LHK mengundang seluruh pihak terkait seperti BMKG, BNPB, TNI, POLRI, BPPT, serta ahli klimatologi dari IPB University.

Menteri LHK meminta Patroli Terpadu dengan melibatkan masyarakat untuk diperkuat sebagai suatu sistem pertahanan untuk mengendalikan karhutla sedini mungkin.

“Patroli Terpadu telah dilaksanakan di seluruh wilayah Indonesia, dan hingga kini telah tercipta sebanyak 185 posko desa dengan jangkauan hingga 555 desa di sekitar posko,” imbuh dia.

Selain itu Menteri LHK berharap dilakukan penguatan kapasitas pada kelompok Masyarakat Peduli Api (MPA), yang kini juga telah ditambah dengan kelompok paralegal.

Disamping mendukung upaya pencegahan karhutla di tingkat paling tapak, kelompok MPA-Paralegal ini dinilai dapat menciptakan kegiatan-kegiatan yang bermanfaat ekonomi, sehingga masyarakat tidak lagi membuka lahan dengan cara membakar.

“Total jumlah MPA-Paralegal di seluruh Indonesia sebanyak 12 kelompok pada 2020 dan tengah diusulkan penambahannya pada 2021 sebanyak 28 kelompok. Sehingga pada akhir tahun ini, diharapkan dapat terbentuk sebanyak 40 kelompok MPA-Paralegal,” jelas dia.

Lebih lanjut Menteri LHK mengatakan upaya lain untuk mencegah terjadinya karhutla adalah dengan memanfaatkan teknologi modifikasi cuaca (TMC) untuk menciptakan hujan buatan di wilayah rawan karhutla.

Upaya TMC di Provinsi Riau, pada fase pertama 10 Maret – 5 April 2021, lanjut dia, secara umum meningkatkan curah hujan sekitar 33–64 persen terhadap curah hujan alamnya dan pada fase kedua persentase penambahan curah hujan periode Juli 2021 sebesar dua persen.

“TMC ini telah kita intensifkan beberapa tahun terakhir dan akhirnya menjadi sesuatu yang sangat berguna untuk kita,” kata Menteri LHK.(A.Z)

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: