225 views

Isoman Cerdas: Bukan Sekedar Mengurung Diri, Tapi Harus Cukup Nutrisi

NEWS

wantaranews.com – Jakarta

Berdasarkan data dari Kementerian Kesehatan, jumlah kasus positif COVID-19 di Indonesia per Rabu, 14 Juli 2021 mencapai 2.670.046 orang. Terjadi penambahan pasien positif COVID-19 sejumlah 54.517 orang dalam kurun waktu 24 jam.

Makin meningkatnya kasus positif di gelombang kedua COVID-19 turut mempengaruhi tingkat okupansi rumah sakit rujukan. Di Provinsi DKI Jakarta sendiri tingkat keterisian mencapai 93 persen, atau 9.852 kapasitas tempat tidur isolasi. Artinya hanya tersisa 690 bed atau 7 persen dari yang disediakan.  Sebagai informasi sejak awal bulan Juni 2021 lalu, Pemprov DKI Jakarta telah menambah jumlah Rumah Sakit (RS) rujukan penanganan COVID-19 menjadi 140 RS, sebelumnya 106.

Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Hammam Riza menganggap tingginya jumlah kasus positif COVID-19 di Indonesia, menandakan proses screening dan testing yang diprogramkan oleh pemerintah berjalan dengan baik.

Tingginya permintaan akan alat pendeteksi COVID-19 menurut Hammam, harus dijadikan peluang bagi industri kesehatan tanah air, jangan terus bergantung dengan produk impor, dan pemerintah dapat mengawal dalam penggunaan alat tes tersebut.

Disebutkan, BPPT sebagai lembaga kaji dan terap teknologi bersama dengan PT Prodia Diagnostic Line telah mengeluarkan Rapid Diagnostic Test Antigen  lokal dengan merek BPRO. BPRO COVID-19 Ag Rapid Diagnostic Test merupakan uji cepat imunokromatografi untuk deteksi kualitatif antigen spesifik terhadap protein nukleokapsid SARS-CoV-2 pada sampel swab nasofaring.

Hammam menilai dengan semakin masifnya proses testing di masyarakat akan menjadi kunci signifikan dalam pengambilan keputusan kebijakan, acuan penanganan pasien, dan pengawasan persebaran COVID-19 di Indonesia, terlebih dalam upaya pemulihan ekonomi yang saat ini sedang dilaksanakan pemerintah.

Semakin terjangkaunya alat deteksi COVID-19 yang beredar di masyarakat, seharusnya dapat dimanfaatkan oleh masyarakat. Hammam mengajak masyarakat untuk proaktif memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat apabila mulai merasakan gejala COVID-19, karena varian Delta yang tersebar saat ini lebih menular dibandingkan varian sebelumnya.

Dirinya juga menyarankan masyarakat untuk tetap tenang ketika terdiagnosis positif COVID-19. Anjuran tersebut diungkapkan dalam acara Bincang Sehat TFRIC-19 Next Generation “Isoman Cerdas, Upaya Efektif Hadapi Gelombang COVID-19” yang digelar secara virtual,  Kamis (15/7/2021).

Kenali dulu gejalanya, sebut Hammam, apakah termasuk gejala ringan atau orang tanpa gejala (OTG). Masyarakat dihimbau untuk segera mengukur tingkat saturasi oksigen setelah dinyatakan positif COVID-19. Untuk orang dewasa, kisaran normal saturasi oksigen arteri (SaO2) adalah 95 – 100 persen, dan apabila dibawah ambang batas, masyarakat harus segera menghubungi satuan tugas COVID-19 di daerahnya untuk mendapatkan penanganan yang sesuai dengan prosedur.

Hammam menyarankan pasien COVID-19 OTG dan tak bergejala untuk isolasi mandiri (isoman), tidak perlu dirawat sesegera mungkin di rumah sakit. Hal tersebut turut membantu tenaga kesehatan dan fasilitas kesehatan yang saat ini mengalami over capacity pasien COVID-19.

Berdasarkan buku panduan COVID-19 Kementerian Kesehatan, isolasi mandiri bukan hanya menghindari kontak dengan orang lain serta tidak bepergian, namun juga dibarengi dengan mengkonsumsi vitamin dan makanan bergizi untuk mempercepat proses pemulihan.

Menurut data Satgas COVID-19 dilansir dari health.detik.com, faktor komorbid menjadi salah satu pemicu utama kematian pasien COVID-19 di Indonesia. Ada 4 penyakit komorbid terbesar yang dialami pasien COVID-19 yang meninggal dunia yakni, penyakit ginjal, penyakit jantung, diabetes, dan hipertensi.

Hammam berujar pada penderita yang memiliki komorbid dan sindrom metabolic  rentan terjadi hyper-inflamasi ketika terpapar virus COVID-19,  menyebabkan penggumpalan darah dan emboli paru dan mengakibatkan sesak napas (saturasi oksigen turun secara cepat). Oleh karena itu diperlukan suplemen yang dapat membantu mengatasi penyakit komorbid dan sindrom metabolic dengan harapan dapat menekan perburukan dan fatalitas COVID-19.

Untuk membantu masyarakat meminimalisir tingkat kematian yang diakibatkan oleh komorbid, BPPT memperkenalkan beberapa inovasi produk suplemen kesehatan, diantaranya Stamilic, Whole Beta, dan Kernel Beras Terfortifikasi.

Hammam berujar inovasi suplemen kesehatan tersebut merupakan upaya dari BPPT menyiapkan teknologi yang sustainable atau berkelanjutan melalui sebuah ekosistem inovasi Task Force Riset dan Inovasi COVID-19 (TFRIC-19).

Dirinya berharap ketiga inovasi kesehatan tersebut dapat membantu masyarakat dalam menjaga tubuh, tidak hanya dalam masa isoman, namun juga sebagai tindakan antisipasi terhadap COVID -19 selama pandemi.@Red

Leave a Reply