1 1
Read Time:3 Minute, 42 Second

wantaranews.com – Jakarta

PT Timah Investasi Mineral (TIM) yang merupakan anak perusahaan PT. Timah Tbk, diduga telah merugikan keuangan Negara sebesar Rp.178 Miliar yang diantaranya terjadi dalam Proses Pembelian Batubara Offtake senilai Rp.64,3 miliar, Pembelian Saham senilai 55 miliar serta kerugian akibat hutang tanggungan sebesar Rp.19,3 miliar dan kerugian atas Penebitan Surat Hutang sebesar 40,3 miliar.

Berdasarkan informasi yang diterima redaksi media wantara group dari nara sumber, perusahaan investasi yang didirikan pada 1996 dan bergerak di bidang pertambangan yang 99,9% sahamnya dimiliki oleh PT Timah Tbk, serta dipercaya akan menjadi ujung tombak perusahaan induk dalam hal investasi dan penanaman modal, serta pengembangan bisnis baik di dalam maupun di luar negeri tersebut diduga telah disalahgunakan oleh sekelompok orang menjadi ajang mencari keuntungan pribadi dan golongan dengan modus membuat kebijakan – kebijakan yang menguntungkan pihak tertentu berdampak merugikan keuangan perusahaan yang keseluruhan modalnya bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Menurut sumber, beberapa kebijakan PT TIM yang diduga menguntungkan pihak lain dan merugikan keuangan perusahaan diantaranya terjadi dalam proses pembelian batubara offtake sebanyak 6.000.000 (enam juta) MT, setara  dengan Rp.60.miliar  dengan sistim pembayaran bertahap, tanpa menunggu hasil uji kelayakan (Due Diligence) yang mengakibatkan perusahaan rugi sebesar Rp.63.570.268.900,- karena pembayaran tetap dilakukan secara penuh dan sesuai tahapan sementara batubara offtake yang diterima PT TIM dari perusahaan pemasok hanya sekita 1,28% dari perjanjian.

Menurut sumber kerugian sebesar itu terjadi dengan adanya biaya akusisi sebesar Rp. Rp.4.340.876.000,- dengan rincian, pembayaran bertahap yang telah dilunasi PT. TIM kepada perusahaan pemasok sebesar Rp.60 miliar ditambah biaya akusisi menjadi 64.340.876.000,- sedangkan harga 1,28% batubara offtake yang diterima PT TIM yakni 77.060,71 MT = Rp.770.607.100,- sehingga total kerugian PT. TIM adalah Rp.64.340.876.000,- – Rp.770.607.100,- = Rp.63.570.268.100,-.

Masih menurut sumber, kerugian lainnya terjadi dalam proses pembelian 90% saham perusahaan pemasok batubara offtake yang tidak dapat memenuhi kewajibannya tersebut di beli oleh PT. TIM senilai Rp.55M.

Ironisnya, lanjut sumber, pembelian saham tersebut dilakukan tanpa menerapkan prinsip kehati-hatian sebab pembelian dilakukan tanpa terlebihdahulu dilakukan eksplorasi pengukuran, serta tidak dilakukan pemeriksaan mendalam terhadap data keuangan perusahaan karena pada  saat proses jual beli saham dilakukan, perusahaan tersebut memiliki hutang  kepada pihak lain senilai Rp. Rp.6.246.059.774,- artinya pada saat itu perusahaan dalam kondisi tidak sehat.

Lebih ironis lagi, hutang – hutang perusahaan tersebut terus bertambah pasca 90% sahamnya dibeli oleh PT. TIM yakni Rp.13.105.479.088,00,- pada tahun selanjutnya, lalu bertambah Rp.5.547.071.768,00,- dan informasi terakhir yang didapat sumber sebesar Rp.701.338.661,00,-. Sehingga total keseluruhan beban hutang yang ditanggunga oleh PT. TIM bertambah sebesar Rp. Rp.19,3 miliar lebih.

Ditambahkan sumber, kerugian PT TIM semakin membengkak dengan adanya perubahan Perjanjian Hutang Piutang yang semulah hutang kepada PT. TIM berubah menjadi hutang PT. TIM (piutang menjadi hutang-red) dengan modus, pada awalnya PT. TIM menerbitkan Surat Hutang  yang dicatatkan sebagai piutang kepada beberapa pemegang saham senilai Rp.40.374.420.885,00,- sesuai perjanjian piutang tersebut dialihkan menjadi piutang PT. TIM, akan tetapi dalam laporan keuangan PT. TIM, hal tersebut tidak tercatat dalam laporan dikarenakan perusahaan lama (yang 90% sahamnya dibeli oleh PT. TIM-red) sudah membuat surat pengakuan hutang yang sama nilainya yakni senilai Rp.40.374.420.885,00,- dan dicatatkan sebagai hutang Pemegang Saham, kemudian hutang pemegang saham lama tersebut menjadi hutang PT. TIM ke perusahaan lama, dengan cara membuat perjanjian hutang piutang subrogasi senilai senilai Rp.40.374.420.885,00,-.

“Artinya selain beban hutang sebesar Rp.19.3 milliar di atas, PT. TIM juga harus menanggung beban hutang atas nama pemegang saham lama sebesar Rp.40.374.420.885,00,- yang terjadi akibat perubahan Surat Perjanjian Hutang Piutang tersebut.

Dari keseluruhan proses tersebut melalui PT. TIM, Negara telah dirugikan sebesar Rp.178 Miliar lebih yang diantaranya terjadi dalam Proses Pembelian Batubara Offtake senilai Rp.64,3 miliar, Pembelian Saham senilai 55 miliar serta kerugian akibat hutang sebesar Rp.19,3 miliar dan kerugian atas Penebitan Surat Hutang sebesar 40,3 miliar” tegas sumber.

Ketika hal tersebut coba dikonfirmasikan melalui surat nomor :   03.0121/Konf/PU-MWG/III/2021, tanggal 31 Maret 2021 yang ditujukan kepada Direktur Utama PT TIM, dan diteruskan kepada Bidang Hukum melalui whatsahpp di nomor : 0852-9421-9XXX, hingga berita ini ditayangkan, tidak mendapatkan tanggapan. @ WS*/bersambung

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
33 %
Surprise
Surprise
67 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *